Example 728x250
Daerah

Dari Ikan Hias ke Hama Sungai: Dulu Dipelihara, Kini Ikan Sapu-Sapu Diburu Massal di Indonesia

64
×

Dari Ikan Hias ke Hama Sungai: Dulu Dipelihara, Kini Ikan Sapu-Sapu Diburu Massal di Indonesia

Share this article

Dari Ikan Hias ke Hama Sungai: Dulu Dipelihara, Kini Ikan Sapu-Sapu Diburu Massal di Indonesia

Jakarta – Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.), yang dulu populer sebagai “janitor fish” atau ikan pembersih akuarium, kini berubah status menjadi musuh baru bagi ekosistem sungai di Indonesia. Spesies invasif asal Amerika Selatan ini sedang diburu secara masif oleh pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di Jakarta dan sejumlah sungai besar lainnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru-baru ini menggelar operasi pembersihan serentak di lima wilayah administratif. Gubernur DKI Pramono Anung bahkan turun langsung memimpin aksi di Jakarta Utara. Targetnya jelas: menekan populasi ikan sapu-sapu yang telah mendominasi perairan seperti Sungai Ciliwung, kali-kali perkotaan, dan setu-setu di ibu kota. Dalam satu kali operasi saja, petugas berhasil menangkap hingga beberapa ton ikan ini.

Asal-usul dan Perjalanan ke Indonesia

Ikan sapu-sapu masuk ke Indonesia sejak era 1980-an melalui perdagangan ikan hias. Dengan mulut berbentuk pengisap yang kuat, ikan ini mampu membersihkan lumut dan sisa makanan di akuarium, sehingga banyak orang memeliharanya di rumah. Namun, seiring waktu, banyak pemilik yang tidak sanggup lagi merawatnya—entah karena ukurannya yang membesar atau biaya perawatan—memilih melepaskannya ke sungai terdekat.

Tanpa predator alami di perairan Indonesia, ikan ini berkembang biak dengan sangat cepat. Tubuhnya yang dilapisi sisik keras seperti baju besi membuatnya tahan terhadap kondisi ekstrem, termasuk air tercemar dengan kadar oksigen rendah. Bahkan, ikan ini diklaim mampu bertahan hidup hingga 30 jam di luar air.

Dampak Merusak Ekosistem

Keberadaan ikan sapu-sapu kini dianggap sebagai ancaman serius bagi keanekaragaman hayati air tawar. Berikut beberapa dampak utamanya:

  • Persaingan dan Predasi: Mereka berebut makanan (alga dan detritus) dengan ikan lokal serta memakan telur dan larva ikan asli, sehingga populasi spesies endemik menurun drastis.
  • Kerusakan Fisik Sungai: Kebiasaan membuat lubang di bantaran sungai untuk bersarang menyebabkan erosi tanah, pendangkalan, dan peningkatan risiko banjir.
  • Dominasi Populasi: Di beberapa sungai Jakarta, ikan sapu-sapu disebut menguasai hingga 80-90% biota perairan, membuat ekosistem tidak seimbang.

Peneliti dari BRIN dan ahli ekologi menyebutkan bahwa spesies invasif ini sulit dikendalikan karena tingkat reproduksinya tinggi dan minimnya musuh alami di habitat baru.

Upaya Pengendalian dan Tantangan

Pemprov DKI Jakarta memberikan insentif bagi petugas, seperti uang tunai atau tiket rekreasi, bagi yang berhasil menangkap ikan sapu-sapu. Di daerah lain seperti Kalimantan dan Sulawesi, masyarakat juga mulai melakukan penangkapan massal karena ikan ini merusak jaring nelayan dan dianggap hama.

Meski demikian, para nelayan dan ahli mengakui bahwa pemberantasan total hampir mustahil. “Sekali menetas bisa ribuan, seperti nyamuk,” ujar salah seorang nelayan di Ciliwung. Solusi jangka panjang yang disarankan meliputi penangkapan berkelanjutan, perbaikan kualitas air, serta edukasi masyarakat agar tidak lagi melepas ikan hias ke sungai.

MUI juga sempat mengingatkan agar proses pemusnahan dilakukan secara manusiawi, tidak dengan mengubur hidup-hidup, sesuai prinsip Islam.

Fenomena ini menjadi pelajaran berharga tentang bahaya spesies invasif yang dibawa manusia. Ikan yang dulu dianggap “pembersih” kini justru menjadi simbol kerusakan lingkungan akibat ulah manusia sendiri. Tanpa pengendalian yang konsisten, sungai-sungai Indonesia berisiko kehilangan lebih banyak lagi keanekaragaman ikan lokalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *